Sabtu, 08 Mei 2010

Keberminuman yang agung

Minum” dalam filsafat pertama-tama akan membawa kita pada perenungan akan eksistensi manusia, sebagai makhluk yang bertubuh. Eksistensi itu sendiri sesungguhnya tidak bisa ditetapkan dengan keberadaan tubuh. Hanya saja tanpa tubuh, manusia tidak akan pernah mengalami situasi aktual sebagai diri.”Kau”, begitu kata seorang guru, tentu saja bukan tubuhmu. Karena tubuh hanya bagian dari sesuatu yang membentuk sebuah kedirian. Artinya kedirian manusia sesungguhnya selalu mengatasi batasan tubuh. Hanya saja pelampauan tersebut bukan berarti menegasikan tubuh, sebaliknya mengintegrasikan tubuh ke dalam kesadaran diri yang sepenuhnya tidak kendalikan oleh hukum tubuh.
Minum adalah hukum tubuh. Sebab kebertubuhan itulah manusia menjadi membutuhkan minum. Tanpa tubuh manusia tidak membutuhkan apapun. Tanpa tubuh, manusia menjadi ideal serta lepas dari berbagai keterikatan dan tidak aktual. Sebaliknya sebab bertubuh, manusia menjadi aktual, meski bersamaan dengan itu ia menjadi terbatas, rapuh serta penuh dengan keterikatan terhadap banyak hal, termasuk salah satunya pada minum.
Hingga di sini, minum yang pada mulanya bukan sesuatu apapun, pada akhirnya menjadi sesuatu hal yang begitu penting, bahkan tak tergantikan oleh apa pun, manakala aktualitas eksistensi manusia hanya dimungkinkan dalam kebertubuhan. Seseorang, sebab sesuatu hal, mungkin bisa mengalami pencerahan kesadaran yang luar biasa, hingga ia bisa memahami dan menjelaskan seluruh eksistensi benda-benda yang ada di muka bumi ini.Akan tetapi tetap saja proses pencerahan itu bukan pengalaman nirtubuh, sebaliknya selalu menjadi pengalaman yang hadir dalam pelibatan diri sebagai tubuh. Maka dari itu, saat Sokrates mengatakan bahwa hidup yang tidak direfleksikan dan tidak terpahami, tidak layak untuk dijalani, sesungguhnya adalah sebuah ungkapan yang mengajarkan pada kita agar memahami sisi kedirian kita,yang ternyata kerap begitu tersandarkan pada aspek-aspek yang bersifat kebertubuhan.
Di sini memahami hidup berarti memahami sisi kebertubuhannya diri dengan benar, termasuk dalam persoalan minum. Pada mulanya minum memang sebuah keniscayaan dalam mengada, akan tetapi ketika eksistensi itu sendiri ternyata dituntut mesti mengatasi tubuh, maka manusia harus melampaui keberminuman tubuhnya menuju keberminuman diri. Manusia memang hidup dalam hukum-hukum tubuh, dan selalu terikat dengan sifat-sifat tubuhnya. Akan tetapi dalam hidup itu sendiri, manusia tidak boleh dikuasai tubuhnya. Manusia harus mampu menguasai dan mengendalikan tubuhnya. Konsep ini bersifat etis, sebab dalam kebertubuhannya, manusia tidak lagi dimiliki tubuhnya sebaliknya, secara total ia menjadi pemilik dari tubuh itu sendiri. Dalam pengertian ini, minum bukan lagi sebab yang mesti mengikat hidup manusia, melainkan pilihan bagaimana manusia menjalani hidup yang dipilih dan diyakininya.
Pemikiran ini kelak Sokrates buktikan di akhir hidupnya dengan tetap bersikap teguh menerima keputusan senat athena untuk meminum racun. Konon dalam kisahnya, petugas penjara yang menyerahkan racun pada Sokrates tak kuasa menahan air mata, bahkan menangis tersedu-sedu. Sementara Plato dan teman-temannya meratapi peristiwa itu dengan sedih. Menurut Plato, Sokrates sesungguhnya memiliki pilihan untuk lari dan menolak dari hukuman tersebut, dengan cara memanfaatkan kolega-kolega yang ada. Akan tetapi Sokrates memiliki cara berpikir yang berbeda dalam menyikapi hal itu. Sokrates tidak ingin lari sedikit pun hidupnya. Ia sadar minum dalam hidup bukan sekedar mengetahui, namun juga harus mengalaminya secara total.
Di sini, Sokrates mengatasi keterikatan dirinya akan rasa memiliki tubuh dan hidup. Keputusan Sokrates menjadi keputusan yang sangat tepat, sebab jika ia lari, maka semua yang hal yang ia yakini tidak akan memiliki nilai dan makna apapun, selain sebuah wacana. Sokrates cukup memahami betapa ia mesti berpihak pada keberminuman diri, dan bukan pada keberminuman tubuhnya. Jika Sokrates memihak keberminuman tubuh sokrates tentu tidak akan mau menjalani hukuman tersebut.
Kisah minum dan kematian sokrates menjadi kisah keberminuman yang tragis dan begitu ironi. Namun demikian dibalik sisi tragisnya, Sokrates telah menjadi contoh, bahwa minum bukan pekerjaan sederhana melainkan pekerjaan yang sangat berat, karena keberminuman diri tidak sekedar membutuhkan nalar, akan tetapi laku hidup yang total dan sepenuhnya. Sokrates adalah sejarah bagaimana sebuah keberminuman menjadi sesuatu yang agung dan abadi.
Jika pada saat itu Sokrates memutuskan tidak memilih minum, maka saat ini kita tidak akan pernah mengerti pemikirannya. Plato, sang murid setia, tentu tidak akan pernah menulis apoligia. Dan jika itu terjadi Sokrates akan menjadi nama yang asing serta yang tidak pernah dibaca oleh siapapun. Namun demikian Sokrates berhasil membuat keputusan yang tepat. Meski ia tahu keputusan itu membuatnya mati, akan tetapi itu kematian itu jauh lebih baik dari pilihan hidup yang ia miliki. Dengan lari ia mungkin bisa tetap hidup. Akan tetapi ia tidak akan pernah berhasil menyelamatkan apapun, selain hanya menunda kematian jasadnya. Dan jika itu terjadi maka ia sesungguhnya tidak memenangkan apapun. Sebab peperangan yang ia alami bukanlah peperangan jasad melainkan peperangan jiwa. Di mana hidup, meminta Sokrates untuk tidak sekedar berkabar namun juga menjadi bukti dari keyakinan yang dimilikinya. Dari kisah minumnya Sokrates ini kelak di kemudian hari, orang-orang akan tahu betapa kebenaran bukan sesuatu hal yang hanya bisa ditelaah dan diteorisasikan. Kebenaran bukanlah soal sebanyak apa seseorang mampu menjelaskan berbagai sesuatu hal, akan tetapi sesiap dan seberani apa, ia mampu ikhlas dalam meminum sebuah hidup yang pedih dan kepedihan yang hidup. ***

Jogjakarta 8 April 2010
*)untukmu yang seperti minuman

Pengikut